Proposal Penelitian

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN *

Antonius Cahya Prihandoko **

Penelitian merupakan suatu proses untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadap suatu permasalahan dengan cara mengamati dan menganalisis gejala-gejala yang terjadi. Proses penelitian secara umum meliputi tahap-tahap: perencanaan, pelaksanaan, analisis hasil penelitian, dan pelaporan. Suatu perencanaan penelitian perlu disusun dalam bentuk yang formal dan dituangkan secara tertulis dalam sebuah proposal penelitian. Hal ini diperlukan sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian dan menganalisis hasil-hasilnya. Selanjutnya keseluruhan proses dan hasil penelitian tersebut perlu dilaporkan dan disajikan dalam sebuah karya tulis ilmiah, baik berupa laporan penelitian, skripsi, thesis, disertasi, dan lain-lain.

Substansi dasar yang harus ada pada setiap proposal penelitian adalah latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan teori dan metode penelitian. Namun demikian outline proposal penelitian ada bermacam-macam tergantung dari tujuan dan gaya selingkung dimana penelitian akan dilaksanakan. Proposal yang digunakan untuk memperoleh dana penelitian, misalnya, selain mencantumkan substansi dasar tersebut, juga harus menampilkan rencana anggaran, jadwal penelitian, dan kualifikasi peneliti. Apabila penelitian tersebut juga melibatkan lembaga atau instansi lain, maka dalam proposal juga harus dicantumkan surat kesepakatan kerjasama dengan lembaga atau instansi tersebut.

Mahasiswa program strata satu dalam tugas akhirnya diwajibkan menyusun sebuah karya tulis ilmiah, yakni skripsi.  Skripsi ini berisikan proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh mahasiswa. Oleh karenanya untuk menghasilkan sebuah skripsi yang baik dan benar, maka penelitian yang dilakukan juga harus baik dan benar. Dan untuk dapat melaksanakan penelitian dengan baik dan benar, maka  diperlukan sebuah perencanaan yang baik dan benar, sekaligus juga matang. Dengan tersusunnya sebuah perencanaan penelitian yang matang maka mahasiswa yang bersangkutan telah menyelesaikan kurang lebih 60 % dari tugas akhirnya. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dalam rangka menyusun skripsi tersebut, digolongkan pada latihan penelitian, sehingga outline proposal penelitian yang diperlukan pada umumnya adalah cukup terpenuhinya substansi dasar yang dilampiri dengan instrumen penelitian, jika ada, dan daftar pustaka.

Substansi proposal penelitian, atau dalam hal ini lebih tepatnya disebut sebagai proposal skripsi, pada umumnya dituangkan dalam tiga bab: pendahuluan, tinjauan pustaka, dan metode penelitian. Kematangan sebuah proposal sebenarnya dapat dilihat dari rangkaian benang merah pada ketiga bab ini. Namun demikian masih banyak mahasiswa yang belum mampu mengimplementasikan pengetahuannya tentang metodologi penelitian untuk menyusun sebuah perencanaan penelitian yang baik dan benar. Hal ini dapat dilihat dengan masih terkotak-kotaknya tiga bab tersebut dalam banyak proposal skripsi yang diajukan oleh mahasiswa. Belum ada suatu rangkaian yang harmonis antara bab 1, bab 2, dan bab 3, dan bahkan dalam satu bab juga terjadi pengkotak-kotakan antar sub bab, misalnya yang sering terjadi adalah ketidaksinkronan antara latar belakang dengan rumusan masalah pada bab pendahuluan, atau bahkan tidak ada rangkaian yang bagus antar alinea dalam sebuah sub bab, atau juga antar kalimat dalam sebuah alinea, dan sebagainya. Tulisan ini disusun dengan tujuan agar mahasiswa dapat memperoleh sebuah gambaran tentang substansi,  kaidah dan rangkaiannya yang mesti terkandung dalam sebuah proposal penelitian. Dan pada akhirnya diharapkan mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu dan pengetahuannya untuk menyusun sebuah proposal penelitian (atau proposal skripsi) dengan baik dan benar.

1. Proposal Penelitian dan Peranannya

Seperti telah disebutkan di atas bahwa proposal yang berisikan rancangan penelitian menjadi sebuah  pedoman bagi pelaksanaan penelitian dan analisis hasil-hasilnya. Oleh karenanya harus ada kesinkronan antara latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan teori, dan metode penelitian, serta kejelasan pada masing-masing unsur tersebut.

Secara garis besar kronologis dalam sebuah proposal penelitian adalah sebagai berikut. Berawal dari sebuah latar belakang permasalahan (bisa berupa kesenjangan antara harapan dan kenyataan, atau perlunya suatu pembuktian empiris dari teori-teori yang sudah ada, atau bisa juga berupa tinjauan tentang perlunya penyempurnaan atau pengembangan terhadap hasil-hasil penelitian terdahulu), maka kemudian dapat dirumuskan beberapa poin masalah. Masalah ini merupakan suatu pertanyaan yang baru dapat dijawab setelah dilakukannya penelitian. Agar permasalahan ini tidak meluas, maka diperlukan adanya batasan-batasan dan pendefinisian secara operasional baik pada variabel-variabel maupun unsur-unsur yang ada pada permasalahan. Langkah spesifikasi ini juga ditegaskan dengan perumusan tujuan dan manfaat dari penelitian. Setelah permasalahan dirumuskan secara spesifik, maka fokus utama penelitian adalah mendapatkan jawaban atau pemecahan dari permasalahan tersebut. Oleh karenanya diperlukan suatu dasar, yang berupa tinjauan teori, dan sarana, yang berupa metode penelitian. Dengan dasar teori yang kuat dan metode penelitian yang benar dan jelas, maka pelaksanaan penelitian akan lebih terarah dan dapat dijalankan dengan prosedur yang benar.

Berdasarkan kronologis tersebut maka jelaslah bahwa dalam sebuah proposal penelitian harus ada kejelasan konsep dan keterkaitan antar masing-masing substansinya. Oleh karena itu untuk menghasilkan kejelasan dan keharmonian sebuah proposal penelitian, maka salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti sebelum menyusun proposalnya adalah dengan menjawab daftar pertanyaan berikut:

  1. fenomena apa yang melatarbelakangi suatu permasalahan?
  2. seberapa penting permasalahan tersebut dipecahkan? mengapa?
  3. berdasarkan latar belakang, rumuskan beberapa pertanyaan operasional yang dalam menjawabnya membutuhkan sebuah proses penelitian!
  4. batasi ruang lingkup permasalahan anda!
  5. tetapkan tujuan dan manfaatnya apabila pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan tersebut nantinya dapat terjawab!
  6. teori apa saja yang relevan dengan permasalahan yang telah dirumuskan?
  7. bagaimana prosedur penelitiannya?
  8. bagaimana cara mengumpulkan dan menganailis datanya?

Dengan menjawab pokok-pokok pikiran tersebut, maka seorang peneliti dapat mengontrol, apakah ruang lingkup permasalahannya terlalu luas atau tidak, apakah jawaban atas permasalahan dapat terjangkau atau tidak, dan apakah unsur-unsur dalam penelitiannya telah terangkai secara logik atau tidak.

Setelah rangkaian yang harmonis antar substansi dasar tercapai, maka pokok-pokok pikiran tersebut dapat dikembangkan dan kemudian dituangkan dalam sebuah paparan formal sesuai dengan outline proposal penelitian yang dipersyaratkan. Oleh karenanya, satu hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun paparan ini adalah bagaimana penyusunan kalimatnya, paragrapnya, subbabnya, sehingga jelas masing-masing ide dasarnya dan antara satu dengan yang lainnya terhubung secara kronologik. Dengan demikian, seorang peneliti apapun bidang ilmunya, harus memiliki pemahaman yang cukup pada penggunaan bahasa (Indonesia) yang baik dan benar, agar dalam menuangkan idenya dalam bentuk tulisan benar-benar menggunakan bahasa tulis formal dan tidak terjebak dalam bahasa lisan. Sebuah paragrap misalnya, harus terdiri dari sebuah kalimat utama dan beberapa kalimat pendukung; dan sebuah kalimat harus jelas subyek dan predikatnya; serta sangat dianjurkan untuk menggunakan kalimat pasif. Selanjutnya antara paragrap yang satu dengan yang lainnya harus terkait dengan baik sehingga jelas ide dasar yang disajikan oleh si penulis.

2. Matrik Penelitian

Matrik penelitian dapat dikatakan sebagai ringkasan dari suatu proposal penelitian, karena semua unsur dalam proposal penelitian, secara singkat ditampilkan dalam matrik ini. Outline dari matrik penelitian juga bermacam-macam tergantung gaya selingkung penulisan karya tulis ilmiah pada masing-masing institusi. Substansi yang dimunculkan dalam sebuah matrik penelitianpun juga tergantung dari jenis dan keperluan penelitiannya. Misalnya matrik dari suatu penelitian korelasional, kausal-komparatif, ataupun penelitian eksperimental  akan memuat substansi-substansi sebagai berikut.

  • Judul
  • Masalah
  • Variabel
  • Sub Variabel
  • Indikator
  • Sumber Data
  • Metode: Pengumpulan Data, Penentuan Responden, Analisis data
  • Hipotesis

Namun jika variabel yang ditampilkan sudah merupakan variabel terkecil, maka sub variabel jelas tidak diperlukan. Atau pada penelitian yang tidak bertujuan menguji hipotesis, seperti pada kebanyakan penelitian tindakan atau pada penelitian yang bertujuan menghasilkan model, baik model pembelajaran maupun media pembelajaran, atau juga pada penelitian matematika murni yang bertujuan membuktikan atau mengembangkan teorema atau model matematis, maka hipotesis tidak akan diperlukan, dan variabel yang dimaksudkan juga berbeda dengan variabel yang ada pada penelitian korelasional.

Singkatnya, sebuah matrik penelitian harus dapat mewakili proposalnya sehingga dengan melihat matrik penelitian, orang akan bisa memperoleh gambaran tentang bagaimana penelitian tersebut akan dilaksanakan.

3. Judul

Judul merupakan suatu unsur yang sangat penting dari sebuah proposal penelitian, karena dengan membaca judul, orang akan dapat memiliki gambaran tentang apa dan bagaimana penelitian yang akan dilaksanakan. Oleh karenanya beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan judul adalah sebagai berikut.

  • Judul harus singkat, padat tetapi jelas dan dirumuskan dalam suatu formulasi kalimat yang menarik;
  • Judul harus memuat informasi tentang tujuan penelitian dan hasil penelitian yang akan dicapai;
  • Judul harus memuat satu atau lebih kata kunci.

Ketidaktepatan perumusan judul dapat berakibat pada ketidaksinkronan antara judul dan substansi penelitian. Berikut ini disajikan beberapa contoh. Jika judul penelitian berbunyi “Model Pembelajaran Matematika Berbasis Web” maka orang akan menangkap gambaran bahwa penelitian ini akan menghasilkan sebuah model pembelajaran matematika dimana seluruh rangkaian prosesnya berfokus pada web. Tetapi jika ternyata penelitiannya hanya akan menjawab pertanyaan tentang efek model pembelajaran tersebut, maka judul yang lebih tepat adalah “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Web pada Mata Pelajaran Matematika”, atau jika penelitiannya ternyata hanya akan menghasilkan sebuah media berbasis web yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran matematika, maka judulnya bisa dirumuskan “Media Pembelajaran Matematika Berbasis Web”.

Contoh lain misalnya, judul “Model Pembelajaran Cooperative Learning pada Pokok Bahasan Pecahan”  menjadi tidak baku karena terjadi redundansi antara pembelajaran dan learning. Judul ini dapat dipersingkat menjadi “Model Pembelajaran Kooperatif pada Pokok bahasan Pecahan”. Dengan judul semacam ini maka akan timbul gambaran bahwa penelitian tersebut akan menghasilkan sebuah model pembelajaran kooperatif yang ideal pada pokok bahasan pecahan melalui beberapa kali uji coba konsep model. Namun banyak mahasiswa yang merumuskan judul semacam ini untuk melabeli penelitiannya yang ternyata akan melihat bagaimana dampak penerapan model yang bersangkutan, sehingga perumusan judul menjadi kurang tepat.

Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa diperlukan suatu kejelian seseorang dalam merumuskan judul penelitian, sehingga judul yang dihasilkan benar-benar akan memberikan gambaran yang tepat tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang akan dicapai oleh suatu penelitian.

4. Bab Pendahuluan

Pada bab pendahuluan biasanya termuat subbab-subbab latar belakang, rumusan masalah, definisi operasional, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Ide-ide dasar pada masing-masing subbab tersebut harus jelas dan antar subbab harus sinkron satu dengan yang lainnya. Semua ide dasar dan keterkaitan tersebut harus terfokus dan mendukung pada rumusan masalah.

4.1 Latar Belakang

Latar belakang berisikan paparan fenomena yang akhirnya menghantarkan bahasan pada timbulnya suatu masalah. Latar belakang tidak boleh terlalu singkat, karena dalam latar belakang harus memuat paparan yang cukup dari data-data,  fakta dan mungkin juga beberapa hasil penelitian terdahulu yang dapat menjadi bahan diskusi untuk bisa berfokus pada sebuah permasalahan yang akan diteliti. Tetapi juga sebaliknya, sebuah latar belakang tidak boleh terlalu luas, karena akan menjadi bias dan akhirnya permasalahan yang akan ditampilkan menjadi tidak jelas.  Misalnya saja permasalahan yang akan diteliti adalah penyelesaian numeris untuk suatu model matematis dari sebuah fenomena, tetapi latar belakangnya diawali dengan pernyataan bahwa matematika adalah ratu ilmu pengetahuan, maka latar belakang yang demikian dikatakan terlalu luas, karena sebenarnya latar belakang tersebut dapat diawali dengan sebuah pemaparan dari fenomena yang bersangkutan. Selanjutnya pemaparan tersebut berjalan secara mengerucut menuju suatu fokus permasalahan yang semakin spesifik.

Pada latar belakang sebaiknya juga diuraikan alasan penulis untuk meneliti permasalahan yang diajukan. Alasan ini harus relevan dan menunjuk pada pentingnya diadakan penelitian yang bersangkutan. Sebagai contoh misalnya jika seseorang akan mengadakan penelitian tentang penerapan suatu model pembelajaran matematika di sebuah sekolah, maka kurang relevan bila alasannya adalah tersedianya waktu peneliti, atau lokasi sekolah dekat dengan domisili peneliti, atau di sekolah tersebut belum pernah diadakan penelitian sejenis. Alasan yang relevan dan menunjuk pada urgenitas harus dikaitkan dengan fenomena yang tengah terjadi di sekolah tersebut, misalnya rendahnya tingkat pemahaman siswa pada materi matematika karena masih monotonnya model pembelajaran yang diterapkan, dan adanya persetujuan serta kerjasama dari pihak sekolah yang memungkinkan peneliti melaksanakan penelitiannya.

4.2 Rumusan Masalah

Latar belakang yang didukung oleh pemaparan data-data dan fakta yang cukup dan tidak terlalu luas serta mengerucut pada suatu fokus permasalahan akan memudahkan peneliti untuk merumuskan masalah dengan jelas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah sebagai berikut.

  1. Masalah harus mempunyai nilai penelitian, artinya masalah harus menyatakan hal yang penting untuk segera didapatkan penyelesaiannya, masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan dan harus dapat diuji atau dengan kata lain, masalah tersebut baru akan didapat jawabannya setelah melalui suatu proses penelitian. Misalnya saja pada penelitian untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran berbasis web, maka pertanyaan tentang bagaimana media pembelajaran yang dinamis dan interaktif, bukan merupakan masalah yang mempunyai nilai penelitian, karena dari tinjauan teori pertanyaan ini sudah bisa terjawab.
  2. Masalah harus fisibel, artinya data, alat analisis, dana dan waktu yang tersedia cukup memadai untuk dilaksanakannya sebuah penelitian dengan prosedur yang benar, serta tidak bertentangan dengan hukum.
  3. Masalah yang diteliti harus sesuai dengan spesifikasi peneliti. Hal ini sangat jelas karena dalam rangka menjawab permasalahan diperlukan suatu penyusunan kerangka berpikir teoritis yang bermutu dan ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kualifikasi keilmuan yang tepat.

Selanjutnya beberapa sumber informasi yang dapat digunakan untuk memperoleh permasalahan    antara lain: pengamatan terhadap fenomena sekitar, bacaan, seminar atau diskusi ilmiah, dan ulangan serta perluasan penelitian.

4.3 Definisi Operasional

Untuk memperjelas pengertian dari variabel-variabel penelitian atau beberapa kata kunci dari unsur-unsur utama dalam masalah penelitian diperlukan adanya definisi operasional. Secara khusus apabila yang didefinisikan adalah variabel-variabel pada penelitian korelasional, maka subbab ini berlabel Definisi Operasional Variabel.

Beberapa kasus dalam penyusunan proposal penelitian oleh mahasiswa ditemukan adanya penyamaan arti antara definisi operasional dengan pengertian leksikal dari suatu istilah, sehingga yang terjadi adalah definisi operasional berisikan makna-makna leksikal dari unsur-unsur dalam masalah penelitian yang kurang memiliki nilai operasional dan bahkan tidak sama sekali. Suatu contoh misalnya pada penelitian yang menelaah tentang hasil belajar matematika maka  diperlukan sebuah definisi operasional untuk term tersebut. Namun yang sering terjadi adalah penggabungan makna leksikal masing-masing unsur dari term tersebut, sehingga tidak jarang dalam definisi operasional tercantum bahwa pengertian hasil belajar matematika adalah suatu hasil dari proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku pada mata pelajaran matematika yang diukur dengan menggunakan tes. Nampak jelas bahwa pengertian semacam ini sama sekali tidak operasional, karena tidak jelas batasan-batasannya dan bagaimana cara pengukurannya secara riil. Dalam menyusun sebuah definisi operasional, peneliti tidak boleh terpaku pada makna leksikal masing-masing unsur dalam suatu kelompok kata, tetapi dengan ungkapan sendiri perlu mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan term tersebut dalam penelitiannya dan secara kongkrit bagaimana pelaksanaannya maupun pengukurannya. Misalnya saja secara kongkrit yang dimaksud dengan hasil belajar matematika adalah rata-rata nilai siswa dari tiga kali tes yang diberikan peneliti, yang masing-masing pada pokok-pokok bahasan persamaan linier, persamaan kuadrat dan grafik fungsi. Nampak bahwa pengertian tersebut sudah operasional dan lebih spesifik pada ruang lingkup penelitian.

4.4 Batasan Masalah

Batasan-batasan dalam suatu penelitian diperlukan agar ruang lingkup masalah tidak meluas. Batasan-batasan ini terkait dengan keterbatasan dana, waktu, tenaga, pengumpulan data dan analisisnya, serta relevansi kualifikasi peneliti dengan permasalahan yang akan dibahasnya. Misalkan saja dalam penelitian tentang aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Secara umum ada 10 macam aktivitas belajar siswa, tetapi tentunya tidak semua terkait erat dengan pembelajaran matematika, sehingga peneliti dapat membatasi permasalahan dengan memilih beberapa aktivitas saja yang benar-benar relevan dengan pembelajaran matematika, misalnya aktivitas  visual, oral dan mental. Demikian juga halnya dalam penelitian yang bertujuan menghasilkan desain media pembelajaran yang dinamis dan interaktif, maka dengan keterbatasan dana dan waktu, peneliti dapat membatasi ketercapaiannya, misalkan apabila 70 % dari keseluruhan indikator dinamis dan interaktif tercapai, maka desain yang dihasilkan sudah merupakan hasil final. Pada intinya seorang peneliti berwenang memberikan batasan-batasan demi terlaksananya dan terselesaikannya sebuah proses penelitian. Batasan-batasan ini tentunya juga berpengaruh pada proses generalisasi dari hasil penelitiannya.

4.5 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

Tujuan merupakan arah dari suatu penelitian. Tujuan penelitian harus disesuaikan dengan rumusan masalah. Bila permasalahan mempertanyakan hal-hal yang belum diketahui, maka tujuan merinci apa saja yang ingin diketahui, sehingga jika permasalahan sudah terjawab maka tujuan penelitian sudah tercapai. Dalam beberapa penelitian dimana permasalahannya sangat sederhana terlihat bahwa tujuan sepertinya merupakan pengulangan dari rumusan masalah, hanya saja rumusan masalah dinyatakan dengan pertanyaan, sedangkan tujuan dituangkan dalam bentuk pernyataan yang biasanya diawali dengan kata ingin mengetahui. Tetapi bila permasalahannya relatif komplek, permasalahan ini menjadi lebih jelas terjawab bila disusun sebuah tujuan penelitian yang lebih tegas yang memberikan arah bagi pelaksanaan penelitian. Misalnya, bila rumusan masalah memperanyakan bagaimanakah penerapan model pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan pecahan?, maka jelas akan banyak penafsiran tentang jawaban yang diinginkan dari pertanyaan ini, sehingga perumusan tujuannya harus lebih tegas, misalnya ingin mengetahui langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan pecahan, atau ingin mengetahui bagaimanakah efek penerapan model pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan pecahan terhadap hasil belajar siswa, atau keaktifan siswa, atau motivasi siswa, dan sebagainya.

Manfaat penelitian berisikan tentang sumbangan yang dapat diberikan dari hasil penelitian bagi pengembangan ilmu dan teknologi, bagi pengambil kebijakan, bagi lembaga tempat penelitian, dan bagi peneliti sendiri. Apa yang terkandung dalam tujuan dan manfaat penelitian, nantinya harus benar-benar tampak, baik pada hasil penelitian dan pembahasannya, maupun pada kesimpulan dan saran.

5. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka memuat informasi tentang teori dan uraian teori yang mendasari penelitian, baik itu berupa pengertian dasar dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan obyek penelitian maupun pembahasan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Kajian pustaka ini dapat membantu peneliti dalam menyusun sebuah kerangka berpikir ilmiah, merumuskan hipotesis, dan menetapkan metode penelitian yang memuat rancangan penelitian, pengumpulan dan analisis data.

Penyusunan kerangka berpikir merupakan tahapan penting dalam sebuah penelitian. Kerangka berpikir adalah pola penalaran dari peneliti berdasarkan teori-teori yang relevan dalam menjawab permasalahan melalui suatu kesatuan analisis yang logis dan sistematis. Dalam hal ini peneliti harus mampu memberikan suatu kajian yang  tajam pada suatu teori dan mampu melihat hubungannya dengan teori lain yang relevan.

Suatu kebiasaan yang salah apabila seorang peneliti dalam menyusun suatu tinjauan pustaka hanya mengutip sana mengutip sini lalu memberikan kesimpulan seadanya, seperti yang terjadi dalam contoh berikut ini.

Belajar menurut Abu Ahmadi adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang diperoleh dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (1986:2). Sedangkan menurut Sardiman A.M., belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan (1986:22). Hal serupa juga dikemukakan oleh Herman Hudoyo bahwa belajar merupakan proses kegiatan yang disertai usaha yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam waktu relatif lama (1990:1). Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu rangkaian proses kegiatan seseorang untuk bertumbuh yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam waktu yang relatif lama.

Pada contoh tersebut terlihat jelas bahwa peneliti hanya menampilkan beberapa kutipan dan memberikan kesimpulan yang merupakan gabungan dari kutipan-kutipannya, sehingga pengertian yang disimpulkan penulis malah merupakan definisi yang membingungkan. Dalam hal ini peneliti seharusnya memberikan suatu kajian tentang latar belakang masing-masing kutipan tersebut, sehingga akan lebih jelas pada kondisi yang bagaimana setiap pernyataan tersebut berlaku. Dengan demikian peneliti juga tidak perlu memberikan kesimpulan tentang belajar dengan cara penggabungan seperti itu, karena hal ini hanya akan membuat maknanya semakin tidak jelas, tetapi bisa saja peneliti menentukan pernyataan mana yang paling sesuai dengan topik penelitiannya, dan kemudian memberikan tanggapan apabila pernyataan tersebut masih kurang atau malah berlebihan.

Contoh lain yang lebih tragis adalah bahwa dalam membuat sebuah tinjauan pustaka, seorang peneliti hanya menyajikan kutipan-kutipan saja tanpa memberikan kajian lebih lanjut, seperti pada bagian berikut ini.

Abu Ahmadi menyatakan beberapa prinsip belajar sebagai berikut. Belajar harus bertujuan dan terarah; belajar memerlukan bimbingan; belajar memerlukan pemahaman; belajar memerlukan latihan dan ulangan; belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat (1991:17).Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut Slameto digolongkan menjadi faktor intern dan faktor ekstern (1988:56).

Pada contoh di atas jelas bahwa tinjauan pustaka tersebut tidak ubahnya seperti koleksi kutipan, karena tidak adanya kajian lebih lanjut dari si peneliti.

Sebenarnya hal yang terpenting dalam sebuah tinjauan pustaka adalah kajian peneliti terhadap teori atau hasil-hasil penelitian sebelumnya yang digunakan untuk mendukung penelitiannya. Kutipan seharusnya dimaksudkan sebagai pendukung atau pembanding terhadap bahasan yang disampaikan oleh peneliti. Sebagai contoh misalnya peneliti sedang memberikan bahasan kegiatan pemecahan masalah dalam matematika, dan untuk memperkuat bahasannya peneliti mengutip pendapatnya Herman Hudoyo bahwa langkah-langkah pemecahan soal meliputi pemahaman masalah, perencanaan penyelesaian, pelaksanaan penyelesaian, dan pengecekan kembali. Dalam hal ini peneliti perlu melanjutkan bahasannya dengan mengkaji mengapa harus pemahaman masalah dulu, bagaimana bentuk perencanaan dan pelaksanaan penyelesaian, dan mengapa harus ada pengecekan kembali. Dengan demikian sebuah tinjauan pustaka juga dapat digunakan untuk melihat seberapa dalam penguasaan keilmuan yang dimiliki peneliti berkaitan dengan masalah yang akan dipecahkannya, sekaligus juga dapat dinilai kesiapan peneliti dalam melakukan penelitiannya.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk dapat menyusun sebuah tinjauan pustaka yang baik yang dapat memberikan suatu kerangka berpikir ilmiah yang logic dan sistematik adalah dengan memanfaatkan peta pikir. Peta pikir adalah sebuah gambaran skematis yang timbul akibat pengaitan suatu konsep dengan konsep lainnya oleh pikiran seseorang. Suatu contoh misalnya, kita akan mengkaji tentang belajar, maka pada saat kita berpikir tentang belajar akan timbul pemikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar, seperti motivasi belajar, waktu belajar, hasil belajar, tempat belajar, materi yang dipelajari, bahan pelajaran, metode belajar, dan lain-lain. Selanjutnya jika kita berpikir tentang hasil belajar, misalnya, maka akan terpikir pula tentang adanya tes, tugas, latihan, nilai, skor, kisi-kisi soal, dan sebagainya. Demikian seterusnya apabila kita tetap membiarkan pikiran berimajinasi sementara tangan menggambarkan  hasil imajinasi tersebut, maka akan terbentuklah suatu peta pikir. Selanjutnya dari peta pikir tersebut dapat dipilih konsep-konsep mana saja yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti, dengan demikian akan tersusun suatu tinjauan pustaka yang dapat menghasilkan sebuah kerangka berpikir yang logis dan sistematis.

6. Metode Penelitian

Bab metode penelitian berisikan rancangan penelitian, metode penentuan responden, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Penyusunan rancangan dan pemilihan metode-metode tersebut sangat tergantung pada tujuan penelitian.

Rancangan penelitian tidak hanya sekedar berupa urutan langkah penelitian saja, tetapi lebih ditekankan pada desain skematis yang dapat memberikan gambaran tentang aliran proses penelitian. Rancangan penelitian ini lebih mudah dipahami jika digambarkan dalam diagram alir. Dengan demikian dari sebuah rancangan penelitian selain dapat dilihat tahap-tahap penelitian, juga skenario keputusan pada setiap gejala yang timbul pada masing-masing tahapnya.

Pada penelitian yang melibatkan orang sebagai sumber data utama  maka diperlukan metode penentuan responden. Penentuan responden dapat dilakukan secara populatif atau dapat juga secara sampling sesuai dengan kebutuhannya. Jika populasinya terlalu banyak, maka dapat dipilih beberapa responden sebagai sampel. Namun demikian penentuan banyaknya sampel disini harus dilakukan secara proporsional agar hasil penelitian nantinya dapat digeneralisasikan untuk keseluruhan populasi. Tetapi jika populasinya sedikit, maka penentuan responden secara populatif akan memberikan hasil yang lebih baik. Khusus untuk penelitian tindakan kelas (PTK) tidak ada istilah sampel, artinya keseluruhan populasi harus dijadikan sebaai responden penelitian. Biasanya sebuah PTK hanya melibatkan siswa maksimal satu kelas saja.

Pemilihan metode pengumpulan data juga harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Misalnya untuk melihat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, tidak tepat bila digunakan metode angket, tetapi harus dengan observasi.  Namun yang perlu diperhatikan dalam menyajikan metode-metode tersebut adalah bukan hanya sekedar pengertian teoritis dari setiap metode, karena hal ini merupakan daerah kajian dari metodologi penelitian, tetapi yang terpenting adalah alasan mengapa menggunakan metode tersebut, data apa saja yang akan diraih melalui metode tersebut, dan bagaimana pelaksanaannya di lapangan.

Metode analisis data bukan hanya sekedar rumusan-rumusan statistik, tetapi yang lebih penting adalah indikator-indikator keputusan bagaimana hasil-hasil penelitian dapat dianalisis dan diinterpretasikan sehingga akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang valid.

7. Penutup

Sebuah proposal sangat menentukan jalannya pelaksanaan penelitian. Proposal yang baik akan dapat dijadikan pedoman bagi pelaksanaan penelitian dan analisis hasil-hasilnya. Walaupun penelitian mahasiswa yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan skripsi dikategorikan sebagai latihan penelitian, tetapi prosedur yang dilakukan tetap harus memenuhi standar penelitian ilmiah. Oleh karenanya proposal penelitian (atau proposal skripsi) yang disusun juga harus dipersiapkan secara baik dan matang.

Sampai di sini diharapkan agar mahasiswa dapat memahami bagaimana sebenarnya kronologis yang harus ada dalam sebuah proposal supaya tercipta suatu benang merah antar bagian sehingga proposal yang dihasilkan dapat menjadi sebuah satu kesatuan yang terjalin secara harmoni antara permasalahan, kerangka berpikir dan metode penelitian. Selanjutnya diharapkan pula agar mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu pengetahuannya dalam menyusun sebuah proposal penelitian yang baik dan benar.

Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Daftar Pustaka

Liakip. 1996. Perencanaan Penelitian. Makalah disampaikan pada Penataran Tenaga Peneliti Tingkat Pertama Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Moeliono, A.M. 2003. Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek dan Artikel Lain. Bahan Pelatihan Calon Penulis Buku Ajar Perguruan Tinggi, Juni 2003 di Bandung.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Purbohadiwidjoyo, M.M. 1993. Menyusun Laporan Teknik. Bandung: Penerbit ITB.

Sakri, A. 1992. Bangun Paragraf bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

__________. 1993. Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

Slameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara.

Wagito, 1996. Penyusunan Usulan Proyek Penelitian. Makalah disampaikan pada Penataran Tenaga Peneliti Tingkat Pertama Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Widyaprakosa, S. 1996. Hakekat dan Arti Penting Penelitian. Makalah disampaikan pada Penataran Tenaga Peneliti Tingkat Pertama Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Wirawan, T. 1996. Teknik Penyusunan Permasalahan dalam Penelitian. Makalah disampaikan pada Penataran Tenaga Peneliti Tingkat Pertama Lembaga Penelitian Universitas Jember.

———————————

* Disajikan dalam Pelatihan Metodologi Penelitian Jurusan P.MIPA FKIP Universitas Jember,

19 – 22 Juni 2004

** staf pengajar pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jember

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s